Suami saya bukan seorang yang romantis. Tapi selama perjalanan hidup rumah tangga kami, saya makin menyadari, dia berusaha menunjukkan rasa cintanya pada saya melalui hal-hal yang sama sekali tak pernah saya sadari. Bagi saya, dia punya standar romantisme yang berbeda dari pria lain.

Bulan ini genap 8 tahun kami membina rumah tangga. Selama tahun-tahun pernikahan kami, dia tak pernah memberi saya buket bunga mawar merah yang cantik. Atau cincin berlian yang kilaunya berpendar di bawah cahaya matahari. Sebaliknya, dia lebih suka membelikan saya berbagai peralatan memasak yang sudah saya incar sejak lama. Dia tahu saya suka memasak, entah untuk mengisi waktu selama anak-anak sekolah, maupun untuk mengembangkan bisnis katering yang sedang saya rintis.

Tahun ini saya tengah menerka-nerka, alat masak apa lagi yang akan dia hadiahkan di hari ulang tahun pernikahan. Saya melihat ke dapur, dan rasa-rasanya, semua peralatan masak telah saya miliki. Saking banyaknya koleksi alat, saya sampai bingung harus menyimpannya di mana. Belum lagi jika ada pesanan datang, pasti dapur ini makin sesak. Saking sesaknya, ruang makan dan ruang keluarga pun berubah jadi dapur racik.

Suami saya termasuk orang yang tidak pernah komplain. Tapi melihat kondisi ruang keluarga yang penuh peralatan memasak, dia tak tahan juga. Suami sempat menawarkan untuk merenovasi dapur. Konsekuensinya, teras belakang yang rencananya akan kami jadikan kamar untuk si kecil, harus direlakan untuk perluasan dapur. Adapun si kecil, terpaksa harus sekamar dengan kakaknya. Padahal, mereka makin dewasa dan pasti membutuhkan ruang yang lebih besar. Rasanya bimbang. Mungkin inilah resiko hidup di tengah kota. Kami mendapatkan akses ke berbagai pusat perbelanjaan dan sekolah dengan mudah, namun di rumah, kami harus berdamai dengan keterbatasan lahan hunian.

Saya tak langsung mengiyakan tawaran suami. Saya minta waktu untuk berpikir, namun yang terlintas justru keinginan untuk pindah rumah. Hidup di tengah kota rasanya menyesakkan. Saya ingin memiliki rumah di kawasan pinggiran, yang jauh dari hiruk pikuk kota namun tak terasing. Saya ingin menghirup udara segar dari pepohonan yang hijau setiap pagi, dan bukannya terkurung di dalam rumah untuk menghindari asap polusi kota yang tiap hari makin parah saja.

Dan yang pasti, saya ingin mendapatkan hunian yang lebih mengakomodasi kebutuhan saya dan anak-anak. Dapur luas, ruang keluarga yang lapang, dan taman belakang yang hijau.

Keesokan harinya, saya sampaikan keinginan ini pada suami. Dia sempat kaget dengan keinginan saya, namun dia sepakat dengan alasan yang saya sampaikan. Yang menjadi fokus utamanya, dia menginginkan ruang yang lebih luas untuk aktivitas anak-anaknya selama di rumah. Akhirnya kami pun sepakat untuk pindah rumah. Karena tak punya waktu untuk berburu rumah baru, suami meminta saya yang mencari.

Setelah berkunjung ke berbagai pameran properti, pilihan saya jatuh pada Citraland BSB City di Mijen. Kebetulan, perumahan ini tengah menawarkan cluster terbarunya, Victoria Valley. Dari namanya saja, saya sudah sreg. Seolah-olah, cluster ini diciptakan untuk saya.

Ada tiga tipe rumah yang ditawarkan, yakni Valery, Vanya dan Viviane. Dari ketiganya, tipe yang menggoda saya adalah Viviane.

Meski berbeda luas tanah dan bangunan, namun setiap rumah dibangun dalam dua lantai. Lantai pertama diisi dengan kamar tidur utama, ruang keluarga, dapur, dan garasi, adapun lantai kedua untuk ruang tidur anak dan ruang keluarga. Di bagian depan dan belakang rumah, terdapat taman terbuka yang bisa difungsikan untuk menanam aneka bunga maupun membuat kolam ikan yang gemericik airnya mendamaikan hati.

Saya dan suami pun tak perlu berebut lahan parkir karena rumah ini sudah memiliki double carport.

Yang paling membuat saya jatuh hati, setiap rumah dalam cluster ini dibangun dengan dapur yang luas. Ini sesuai dengan harapan saya yang mendambakan dapur besar untuk menyimpan berbagai peralatan memasak dan menjalankan usaha katering, tanpa harus merambah area ruang keluarga. Ruang keluarga tak kalah lapangnya dengan dapur, sehingga anak-anak bisa bebas mengekspresikan berbagai aktivitas kegemarannya. Kami pun bisa menonton televisi bersama atau sekadar bermanja-manja dengan anak-anak dengan lebih nyaman.

Tak dinyana, suami pun tertarik dengan hunian ini. Dia menyukai lingkungannya yang tertata asri, juga penataan taman utamanya, Valore Garden, yang menurutnya sangat ikonik dan asri di bawah pepohonan rindang. Dia bahkan sudah berencana membeli sepatu baru untuk jogging berkeliling taman ini.

Soal harga, menurutnya sangat sepadan dengan hunian dan fasilitas yang ditawarkan. Terlebih, kawasan Mijen merupakan kawasan yang mulai berkembang. Sepuluh tahun mendatang, kawasan ini pasti tak kalah ramainya dengan pusat kota. Otomatis, nilai properti di kawasan ini pun akan meningkat pesat. Berbeda dengan kawasan pusat kota yang akan makin terdesak hotel dan mall, di Citraland BSB City kami bisa mewariskan hunian nyaman yang prestisius bagi anak kami di masa depan.

Melihat berbagai potensi ini, kami pun mantap untuk menginvestasikan tabungan kami di Victoria Valley Citraland BSB City. Dan tepat di hari ulang tahun pernikahan kami kedelapan, suami meninggalkan sebuah map putih yang di dalamnya terdapat kertas berisikan bukti kepemilikan rumah atas nama saya, Erlina Mariana. Di bawahnya, terdapat sebuah memo dengan tulisan tangan yang sudah sangat familiar, berisi, “Happy 8th Anniversary, sayang. Maaf tahun ini tak ada peralatan masak lagi untukmu. Sebagai gantinya, aku hanya bisa memberimu ini. Semoga kamu menyukai rumah baru kita. Love you…”

Bicara apa dia, gumamku sambil tersenyum, tentu saja aku menyukainya. Ini hadiah terbaik yang pernah ada.