Serangkaian acara dihelat CitraLand BSB City untuk menyambut kehadiran kluster terbarunya yakni Victoria Valley. Kluster ini merupakan kluster ketiga setelah Ivy Park dan Forest Hill. Victoria Valley sendiri merupakan satu kesatuan hunian yang memadukan fasilitas yang ada di dua kluster sebelumnya. Berdiri di area seluas 8 hektare hanya dengan 152 unit bangunan saja.

“Kluster ini memang dirancang khusus bagi para keluarga yang menginginkan suasana yang rumah yang lebih luas dan elegan,”jelas Jatmiko selaku General Manager CitraLand BSB City.

Victoria Valley yang diusung CitraLand BSB City mencoba memadukan konsep gaya modern dan victorian yang antik. Ada tiga tipe yang disediakan yakni tipe yang terbesar yakni Vivian, Vanya dan tipe terkecil Vallery. Dan hasilnya, dari ketiganya berhasil mencuri perhatian konsumen dengan keunikannya. Kluster ini berusaha memadukan keselarasan dan cinta yang dipersembahkan untuk perempuan dan keluarga. Dengan demikian, rumah tidak sekedar menjadi tempat tinggal saja, namun juga tempat berbagi dan tempat untuk tumbuh bersama secara harmoni.

Dengan desain double kitchen pihak CitraLand BSB City berusaha mengajak setiap keluarga untuk hidup sehat yakni back to the kitchen dan juga memanjakan bagi para womanpreneur yang berwirausaha di bidang kuliner khususnya. Selain itu dengan kondisi hunian yang lebih luas, memungkinkan pemilik rumah memiliki double carport dan halaman belakang yang nyaman.

Hingga dilakukannya grand launching setidaknya telah tercatat sebanyak 32 unit hunian sudah terjual. Menurut Ronny Hermawan selaku Marketing Manager, pihaknya menargetkan kluster Victoria Valley ini dapat terjual sebanyak 71 unit hingga akhir tahun mendatang.

Dalam acara grand launching Victoria Valley sendiri, masing-masing konsumen diundang untuk mengikuti gala dinner bersama jajaran direksi CitraLand BSB City. Uniknya dalam acara grand launching pada 28 Mei 2016 lalu, seluruh hadirin mengenakan busana senada yakni casual bretel suspender untuk menguatkan tema yang diusung pada acara malam itu. Para hadirin diajak untuk mengenal lebih dekat suasana yang dihadirkan oleh CitraLand BSB City. Seperti fasilitas country club, sarana olah raga, taman, sekolah, pusat perbelanjaan, kuliner dan tempat peribadatan.

Mengiringi penyelenggaraan Grand Launching Victoria Valley turut pula hadir dua rangkaian acara besar yang cukup mampu menarik perhatian dan antusiasme masyarakat serta mampu menjadi barometer dalam penyelenggaraan agenda serupa yakni Victoria Pop Mart dan Forest Run.

 

Victoria Pop Mart

Banyak cara yang dapat dilakukan untuk mengapresiasi karya, terlebih jika diantara karya-karya tersebut berasal dari tangan-tangan kreatif para wanita. Seperti apa yang dilakukan oleh CitraLand BSB City yang berusaha menghadirkan sebuah ajang pameran bagi para womanpreneur serta pemilik brandbrand lokal yang sudah mulai dikenal dikalangan masyarakat pada 28-29 Mei 2016.

Market bertajuk “The Prettiest Pop Up Market in Semarang” ini mengusung konsep gaya victorian, yang kental dengan nuansa kayunya. Setting latar yang senada dengan aneka pernak-pernik yang disajikan memperkuat kesan dinamis dan klasik.

Selama dua hari kegiatan ini terlaksana, antusiasme masyarakat begitu fantastis. Terlebih banyak sekali promo yang dihadirkan dimasing-masing booth. Seperti ibu Amy yang membawa serta putrinya untuk berkeliling di area Victoria Pop Mart. Amy mengaku, ia memang jarang menemui pameran brand lokal dalam satu tempat.

“Barangnya bagus-bagus terlebih ada diskonnya jadi lumayan ngirit dompet,”tuturnya.

Victoria Pop Mart tidak hanya memanjakan kalangan wanita saja, akan tetapi juga anak-anak dan kaum muda. Seperti Outstadt yang menyuguhkan pernak-pernik berbau anak muda, seperti kaos, gelang, dan topi.

Selain itu, Victoria Pop Mart juga mendatangkan keberkahan pula bagi Gramedia. Sampai hari terakhir, penjualan buku terlaris di booth Gramedia adalah buku anak. Mulai dari drawing book, buku belajar membaca hingga buku cerita.

Inspiring  Womanpreneur

Tidak habis-habisnya Victoria Pop Mart menghadirkan suguhan-suguhan menarik khususnya bagi para kaum wanita. Salah satunya adalah dengan menghadirkan serangkaian acara talk show bertajuk wanita, kreativitas dan kesehatan.

Mencoba lebih dekat dengan sosok-sosok survivor yang mengentaskan usahanya dari nol dengan berbagai latar belakang. Salah satunya adalah Nurul Laila Hastuti. Sebelum memutuskan untuk resign dari salah satu perusahaan kopi swasta, ia didiagnosis mengidap penyakit kanker. Berkat keyakinannya bahwa penyakit yang dideritanya ini sebagai anugrah ia mulai bangkit dan terus mencari kesibukan.

“Saya berfikir kenapa saya tidak mulai dari apa yang ada disekitar saya. Barulah saya berinisiatif untuk reuse dan recycle kain-kain perca ini,”tutur Nurul pemilik brand Paste.

Kini sudah banyak produk yang ia hasilkan dari tangan kreatifnya seperti kalung, bantal leher, tas, tirai serta lukisan. Ditambah ia sudah memiliki banyak partner untuk terus berkreasi dengan kain-kain perca tersebut.

Setali tiga uang dengan Diah Nevy Purnamasari, ibu 3 orang anak ini berangkat dari nol untuk terus meneruskan usaha keluarganya. Ia juga keluar dari pekerjaannya sebagai seorang guru. Ia memilih untuk memasarkan usahanya yakni gudeg wijilan. Sejak 2006 lalu, ia merintis usahanya. Diakuinya cemooh, komplain, dan cacian sudah jadi makanannya sehari-hari. Akan tetapi, hasil yang ia rasakan sekarang sudah lebih dari cukup untuk membantu suami memenuhi kebutuhan keluarga.

Lain halnya dengan Nancy, founder Nature Mart, yang berusaha merintis usahanya karena motivasi yang ia dapatkan dari dirinya sendiri. Ia mencoba menerapkan prinsip clean eating untuk mendapatkan tubuh yang sehat dan bugar.

Clean eating bukan berarti makan sampai habis, tapi makan makanan apa saja yang banyak mengandung serat dan bergizi,”jelas wanita paruh baya yang masih tetap cantik ini.

Kesehatan memang menjadi kebutuhan dasar bagi seseorang. Seperti apa yang diungkapkan oleh Dr.Dora Lailawati bahwa kesehatan dipengaruhi oleh psikis yang sehat. Untuk itu penting sekali kita menerapkan pola perilaku sehat.”

Forest Run

Forest Run yang digelar di CitraLand BSB City (29/05) siap menjadi gaya baru untuk jenis lari jarak jauh khususnya di area Semarang dan Jawa Tengah. Pihak penyelenggara, Puji, mengatakan bahwa event ini baru pertama kali di gelar di Jawa Tengah apalagi di Semarang. Forest run menjadi unik adalah bagaimana pelari melewati tantangan dengan track yang berbeda. Para peserta lari ditantang berlari melintasi hutan karet sepanjang 8 kilometer. Tentu hal ini akan menjadi satu gaya hidup yang berbeda. Jika biasanya pelari akan berlari melalui race yang sudah dipersiapkan sedemikian rupa dan tentu jalur yang dilalui masih sedikit menyisakan polusi. Untuk Forest Run kali ini, para pelari tidak akan menemui jalan raya sehingga kemungkinan terkena polusi sangat minim sekali.

Forest Run dibuat dengan beberapa challenge yang unik salah satunya adalah track yang disediakan terbentuk secara alami. Jalur ini merupakan jalur yang dilalui oleh para penyadap karet setiap harinya. Sehingga tak diragukan lagi, tentu suasana yang didapatkan para peserta pun masih benar-benar alami diiringi dengan gemercik suara air dari sungai yang mengalir di kanan kiri jalur.

“Pesertanya pun tidak tanggung-tanggung, setidaknya ada 1050 peserta yang sudah mendaftar, lebih dari ekspektasi kami,”ungkap Jatmiko.

Forest Run sendiri ternyata telah banyak menyedot perhatian publik dikancah nasional. Ada 15 atlet lari nasional yang turut mengikuti kegiatan ini. Bahkan mereka sudah mencoba track yang berada di sekitar jalur yang akan dilalui pelari nantinya. Selain itu, para peserta ini tidak hanya datang dari nusantara saja akan tetapi juga beberapa datang dari luar negeri.

Dalam Forest Run kali ini dibedakan dalam dua kategori yakni kategori perempuan dan laki-laki. Tercatat Yanita Sari dengan nomor punggung 762 berhasil mencapai garis finish dengan menempuh waktu selama 26 menit 6 detik diikuti Osida, Septiana Dita, Endah Eka dan Bektiningsih. Sementara itu di kategori laki-laki tercatat Hamdan Sayuti menjadi yang tercepat dengan waktu tempuh 13 menit 1 detik disusul Elisar, Arie Swandana, Wiryawan Jaya Subangkit dan Jamal Imam.

Respon positif seperti ini lah yang diharapkan CitraLand BSB City untuk mampu membuat brand baru khususnya di bidang olah raga lari. Forest Run dapat menjadi salah satu inspirasi gaya hidup sehat serta mampu mengangkat citra Kota Semarang khususnya nama CitraLand BSB City.

[HLP]